Istilah 'keanekaragaman hayati pertama kali digunakan oleh Lovejoy
(1980) yang mana menggambarkan tentang jumlah spesies. Untuk mengukur keanekaragaman
hayati, perlu untuk mendekonstruksi beberapa elemen terpisah yang termasuk
dalam keanekaragaman hayati. sperti untuk mendefinisikan keanekaragaman hayati
dalam hal gen, spesies, dan ekosistem, contohnya,'' kelimpahan, variasi, dan
konstitusi genetik asal hewan dan tanaman'' (Dodson et al., 1998). Secara
keseluruhan keanekaragaman hayati mencakup lima kingdom.
Keanekaragaman adalah kata majemuk yang mengacu pada jumlah
spesies. Beberapa dekade terakhir definisinya telah mengalami reduksi/pengurangan.
Definisi sederhana untuk keanekaragaman hayati, tidak spesifik, hanya terkait jumlah
spesies. Namun banyak yang berpendapat bahwa keanekaragaman hayati tidak sama
dengan jumlah spesies di suatu daerah. DeLong (1996) menawarkan definisi yang
lebih komprehensif:
Keanekaragaman hayati merupakan atribut dari suatu daerah dan
secara khusus mengacu lebih dalam pada varietas dan di antara organisme hidup,
kumpulan organisme hidup, komunitas biotik, dan proses biotik, baik yang
terjadi secara alami atau dimodifikasi oleh manusia. Keanekaragaman hayati
dapat diukur dalam hal keragaman genetik, identitas dan jenis spesies, kumpulan
spesies, komunitas biotik, dan proses biotik, dan jumlahnya (misalnya,
kelimpahan, biomassa dan lainnya) dan struktur masing-masing. Hal ini dapat
diamati dan diukur pada skala spasial mulai dari paling kecil/mikro dan habitat
yang seadanya pada seluruh biosfer.
Sebaliknya, beberapa pihak berpendapat bahwa keanekaragaman
hayati, menurut definisi biologis, tidak termasuk keragaman komponen abiotik
dan prosesnya, dan bahwa hal itu tidak akurat untuk mengidentifikasi
proses-proses ekologi, ekosistem, ekologi kompleks, dan lanskap sebagai
komponen keanekaragaman hayati.
Istilah ekologi, seperti yang digunakan dalam arti sistem ekologi
(ekosistem), mencakup komponen proses biotik dan abiotik. Oleh karena itu,
keragaman ekologi adalah istilah yang lebih tepat untuk definisi yang mencakup
keragaman proses ekologi dan ekosistem. Namun, pendapat bahwa proses-proses
ekologis, harus dimasukkan dalam definisi keanekaragaman hayati, sesuai dengan penalaran
bahwa'' proses-proses ekologis yang abiotik sebagai biotik, proses ini sangat
penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati adalah suatu totalitas yang luas dan mencakup unsur-unsur yang berada di luar keanekaragaman spesies. Misalnya, perdebatan utama dalam ilmu biologi selama beberapa dekade bahwa pola terhadap proses, terutama dalam sistematika dan studi evolusi. Perkembangan biologi molekuler dan sistematika telah memungkinkan kita untuk melihat sejarah ekologi untuk disimpulkan dalam membuat pertanyaan yang tepat, dan pemahaman ini telah terintegrasi nyata mirip pola hierarki (misalnya, keragaman) dan proses (misalnya, evolusi). Bagian yang fundamental seperti ''lurus'' (yaitu, pola) versus kemungkinan maksimum (yaitu, proses) dalam interpretasi data skuen filogenetik. Keanekaragaman hayati terdapat pada tiga tingkatan yaitu : spesies, ekosistem dan informasi genetis
Gambar 2. Tiga tingkatan keanekaragaman hayati
Keanekaragaman Spesies
Secara historis, spesies merupakan unit dasar deskriptif dari
kehidupan di dunia. Saat ini diperkirakan ada sekitar 1,7 juta spesies
yang ada, perkiraan konservatif
menunjukkan mungkin ada sekitar 12,5 juta spesies. Sebagian besar terdiri dari
serangga dan mikroorganisme. Umumnya tingkat spesies dianggap sebagai yang
paling alami untuk melihat keragaman seluruh organisme. Selain itu spesies juga
merupakan fokus utama dari mekanisme evolusi, dan asal muasal. Kepunahan spesies
adalah agen utama dalam mengatur keanekaragaman hayati yang ada. Menurut
definisi, organisme yang sangat berbeda satu sama lain dalam beberapa hal
memberikan kontribusi lebih untuk keanekaragaman secara keseluruhan daripada
mereka yang sangat mirip. Semakin besar perbedaan interspesifik (misalnya,
posisi terisolasi dalam hirarki taksonomi), maka kontribusi lebih besar untuk
setiap ukuran dari keseluruhan keanekaragaman hayati global.
Sebuah situs dengan banyak taksa lebih tinggi yang berbeda dapat dikatakan memiliki keragaman lebih tinggi dibandingkan dengan taksonomi dari situs lain dengan sedikit jumlah taksa yang lebih tinggi tetapi lebih banyak spesiesnya. Habitat laut sering memiliki filum lebih berbeda tetapi kurang spesies dibandingkankan habitat darat, yaitu memiliki keragaman taksonomi yang lebih tinggi tetapi keanekaragaman spesies yang rendah. Sebagai contoh, karang Bunaken di lepas pantai utara Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di bumi.
Selain itu pentingnya ekologi suatu spesies dapat memiliki efek langsung pada struktur komunitas, dan keanekaragaman hayati secara keseluruhan. Sebagai contoh, spesies pohon hutan hujan tropis yang mendukung fauna invertebrata endemik dari seratus spesies membuat kontribusi yang lebih besar untuk pemeliharaan keanekaragaman hayati global daripada tanaman alpine Eropa yang mungkin tidak memiliki spesies lain.







